Imunisasi Pada Bayi Dan Anak Part 4
Pada cuilan III dari Imunisasi pada Bayi dan Anak telah dibahas mengenai penyakit tetanus, polio, dan hepatitis B. Topik selanjutnya yang akan diulas dalam goresan pena IV yaitu mengenai penyakit campak dan gondongan.
Campak
Penyakit campak atau sering disebut juga sebagai measles atau rubeola atau morbili merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini gampang sekali menular melalui udara (percikan ludah) kepada anak yang belum diberi imunisasi campak.
Gejala penyakit campak mula-mula hanya mengatakan tanda-tanda batuk-pilek biasa yang sanggup disertai demam ringan, namun usang kelamaan demam makin tinggi, batuk makin keras, dan sering disertai muntah atau mencret. Anak menjadi rewel, gelisah, tidak mau bermain, tidak mau makan, dan sulit tidur. Mata dan selaput lendir mulutnya abses kemerahan disertai sariawan. Ruam kulit kemerahan mulai muncul pada hari ketiga atau keempat demam. Yang khas, ruam ini muncul berurutan dimulai dari kawasan wajah, kemudian ke leher, dada, dan punggung, dan karenanya dalam 2-3 hari ruam merata ke seluruh tubuh. Setelah ruam muncul, umumnya demam berangsur turun, namun batuk mungkin masih bertahan hingga lebih dari 1 minggu. Bekas ruam kulit tampak berupa bercak-bercak berwarna gelap yang gres hilang sesudah 2-3 ahad atau lebih.
Meskipun penyakit campak cukup dikenal di masyarakat, namun masih banyak kesalahpahaman mengenai penyakit ini. Yang penting untuk diketahui yaitu penyakit demam yang disertai kemerahan kulit belum tentu campak, melainkan sanggup pula disebabkan infeksi virus lain atau reaksi alergi terhadap obat. Penyakit campak hanya sanggup diderita oleh seseorang satu kali, lantaran bila sudah pernah sakit campak akan memiliki kekebalan seumur hidup. Penyakit campak tidak harus dan dihentikan diderita oleh anak, sehingga tiap anak harus diberikan imunisasi terhadap penyakit campak pada waktu yang sempurna (pada ketika anak berusia 9-14 bulan).
Diobati atau tidak, anak yang menderita campak, ruam kulitnya akan tetap muncul. Oleh lantaran disebabkan virus, campak tidak sanggup disembuhkan dengan antibiotika, melainkan lebih ditentukan faktor gizi dan daya tahan tubuh; bila baik, pada umumnya sanggup sembuh sendiri dalam waktu 7-10 hari, namun bila mengenai anak bergizi jelek atau dengan daya tahan badan rendah mungkin sanggup terjadi komplikasi berbahaya yang membutuhkan perawatan di rumah sakit menyerupai radang paru atau pneumonia, radang otak, dan kekurangan cairan (dehidrasi) akhir banyak muntah atau diare sementara penderita tidak mau makan dan minum. Dengan demikian, penderita campak harus diobati, bukan untuk membunuh virusnya, tetapi untuk mengurangi tanda-tanda yang diderita anak, menambahkan vitamin, mencegah komplikasi, atau mengobati komplikasi bila ada.
Gondongan
Penyakit gondongan atau mumps atau parotitis epidemika juga disebabkan oleh virus yang menyebar melalui percikan ludah di udara.
Pada awal penyakit, timbul tanda-tanda demam, sakit kepala, tidak nafsu makan, dan lesu yang kemudian diikuti pembengkakan yang keras di kelenjar parotis di bawah pangkal indera pendengaran beberapa hari kemudian. Kelenjar yang abses ini terasa nyeri bila ditekan atau bila anak mengunyah, menelan, atau bila makan makanan yang merangsang keluarnya air liur. Gejala tersebut sanggup pula disertai batuk, pilek, muntah, diare, dan nyeri sendi.
Komplikasi gondongan pada anak pria sanggup berupa peradangan pada buah zakar (testis) yang terasa nyeri, sedangkan pada anak wanita sanggup terjadi komplikasi di indung telur (ovarium), namun sangat jarang.
Tanpa diberi blau atau tinta cina di bawah indera pendengaran pasien, penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dalam 7-10 hari. Benjolan di bawah indera pendengaran mungkin masih teraba keras yang dihentikan diurut atau dipijat. Benjolan tersebut akan hilang sendiri secara berangsur-angsur. Pengobatan yang diberikan dokter bertujuan sama dengan pengobatan pada penyakit campak.
Komentar
Posting Komentar