Pengapuran Sendi Lutut (Osteoarthritis)
Diperkirakan kurang lebih 25% orang berusia 55 tahun atau lebih mengalami nyeri lutut yang terjadi hampir setiap hari dalam satu bulan. Pengapuran sendi lutut atau istilah medisnya dikenal sebagai osteoarthritis sendi lutut, meningkat prevalensinya sejalan dengan bertambahnya usia dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Faktor risiko terjadinya pengapuran sendi lutut mencakup kegemukan (obesitas), stress berat tempat lutut, riwayat operasi tempat lutut, pekerjaan yang menciptakan seseorang membungkuk dan mengangkat beban.
Perjalanan penyakit pengapuran sendi lutut ini sangat bervariasi. Penyakit sanggup membaik pada beberapa pasien, tetap stabil tidak berubah pada pasien lain, atau penyakit memburuk secara perlahan-lahan pada pasien lainnya. Pengapuran sendi lutut merupakan penyebab tersering terjadinya gangguan mobilitas pada orang usia lanjut. Banyak orang dengan nyeri pada sendi lututnya mengalami keterbatasan dalam melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari, menyerupai mandi, berpakaian, memakai jamban, berjalan, dan sebagainya.
Pengapuran sendi lutut memengaruhi seluruh struktur di dalam sendi, tidak hanya menyebabkan hilangnya lapisan hialin rawan sendi, namun perubahan bentuk tulang atau pembesaran tulang juga terjadi, yang disertai pula dengan teregangnya kapsul sendi dan kelemahan otot-otot di sekitar sendi lutut.
Nyeri pada pengapuran sendi lutut umumnya terkait dengan aktivitas, menyerupai naik tangga, berdiri dari kursi, dan berjalan dengan jarak cukup jauh. Kekakuan sendi juga lazim terjadi pada pagi hari namun biasanya berlangsung kurang dari 30 menit.
Tatalaksana pengapuran sendi lutut mencakup upaya untuk mengurangi rasa nyeri, memperbaiki bentuk abnormal sendi lutut yang menjadi bengkok, serta mengidentifikasi ketidakstabilan sendi lutut
Terapi non farmakologis (terapi bukan obat) mencakup :
- Latihan jasmani dengan berat tubuh tanpa atau hanya sebagian saja ditopang oleh sendi lutut (misalnya berenang, naik sepeda, dan sebagainya), serta latihan jasmani untuk menguatkan otot-otot paha. Hindari melaksanakan latihan jasmani jikalau nyeri pada sendi lutut bertambah buruk
- Menurunkan berat badan atau bila perlu berjalan dengan proteksi tongkat untuk mengurangi beban dari berat tubuh yang harus ditopang oleh sendi lutut. Tongkat yang dipakai dipegang oleh tangan yang berada di sisi yang berseberangan dengan sisi sendi lutut yang nyeri. Pada ketika digunakan, tongkat dan tungkai yang nyeri harus menapak pada ketika yang bersamaan.
- Memperbaiki kecacatan sendi lutut yang membengkok dengan brace atau patellar taping atau lapisan dalam sepatu (shoe insert) jikalau tidak membaik dengan terapi medis lainnya
- Akupunktur sanggup mengurangi rasa nyeri sesudah beberapa kali sesi akupunktur dilakukan
Terapi obat mencakup :
- Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri yang sanggup berupa obat minum atau obat topikal yang dioleskan di tempat lutut
- Suntikan asam hialuronat (hyaluronic acid) ke dalam sendi lutut
- Glukosamin and kondroitin sulfat
- Suntikan kortikosteroid ke dalam sendi lutut
Obat pengurang rasa nyeri yang lazim dipakai mencakup asetaminofen (parasetamol), obat anti inflamasi (anti radang) non-steroid (AINS) contohnya Natrium Diklofenak, Piroksikam, Ibuprofen, dan sebagainya, serta penghambat siklooksigenase-2 (COX-2 inhibitor) menyerupai Celecoxib. AINS dan COX-2 inhibitor lebih efektif mengurangi rasa nyeri dibandingkan parasetamol. Walaupun demikian, kelebihan AINS terhadap parasetamol dalam mengurangi rasa nyeri tersebut tidak terlalu berbeda jauh dan oleh alasannya ialah imbas samping toksisitas AINS terhadap ginjal dan imbas samping AINS terhadap terjadinya perdarahan akses cerna, parasetamol seyogianya menjadi terapi lini pertama untuk mengurangi nyeri pada pengapuran sendi lutut, meskipun sepertinya parasetamol kurang efektif di antara pasien yang telah menerima terapi AINS sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar