Kelahiran Lotus (Lotus Birth)

wBDAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB KELAHIRAN LOTUS (LOTUS BIRTH)Pengertian Kelahiran Lotus (Lotus Birth)
Setelah bayi lahir, tali sentra yang menempel pada bayi dan plasenta dibiarkan, tanpa dijepit atau dipotong, dan membiarkan tali sentra terlepas dari bayi secara alami. Tali sentra dan plasenta merupakan satu unit dan satu kesatuan yang membentuk bayi. Umumnya tali sentra terlepas secara alami dua atau tiga hari sehabis kelahiran.


Plasenta yang gres dilahirkan biasanya mengeluarkan cairan, pada kelahiran Lotus, cairan itu di tampung dan disimpan di dalam waskom atau mangkuk, selanjutnya didekatkan pada bayi. Kain yang dipakai untuk menutupi plasenta haruslah memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta tidak berbau busuk dan menjadi kering. Ada yang memakai garam bahari untuk mempercepat proses pengeringan plasenta. Kadang-kadang ada yang mengoleskan minyak esensial, menyerupai lavender atau abu tumbuh-tumbuhan menyerupai goldenseal, neem, dicampurkan dengan lavender sebagai anti bakteri. Kalau pengeringan plasenta tidak dilakukan secara baik, maka plasenta akan mengeluarkan anyir tidak sedap. Bau tersebut sanggup diatasi dengan penanaman plasenta secara eksklusif atau didinginkan (menyimpan dalam lemari es) sehabis ahad pertama pasca persalinan. Kelahiran Lotus jarang dilakukan di rumah sakit. Lebih sering terjadi pada persalinan di rumah dan pusat-pusat kelahiran Lotus.


Sejarah Lotus Birth
Negara perintis Lotus birth yaitu Amerika. Lotus birth dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi bayi dari abses luka yang terbuka. Meskipun Lotus birth ini merupakan suatu fenomena yang baru, tapi penundaan pemotongan tali sentra sudah ada dalam budaya Bali dan budaya suku Aborigin Australia. Dan keputusan Lotus birth serta imbas fisiologis yang sanggup terjadi merupakan tanggung jawab dari klien yang telah menentukan dan menciptakan keputusan tersebut.
Primatolog Jane Goodall, yaitu orang pertama untuk melaksanakan apapun studi jangka panjang dari monyet di alam bebas Pada binatang Simpanse, yang merupakan mamalia dengan 99% materi genetik hampir sama dengan manusia, juga pada prakteknya membiarkan plasenta utuh, tidak merusaknya bahkan memotongnya. Hal itu dikenal dengan fakta primatologis. Beberapa praktisi kelahiran teratai monyet merujuk kepada praktek sebagai latihan alami bagi insan juga.


Informasi mengenai lotus birth ini terdapat dalam aliran Budha, Hindu, Nasrani serta Yahudi.
Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "kelahiran teratai" dipakai untuk menggambarkan para guru spiritual menyerupai Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai utuh, belum dewasa kudus. Kelahiran acuan teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, contohnya dalam dongeng kelahiran Wisnu.


Sampai kini belum ada penelitian lebih lanjut mengenai penyakit kuning dan kehilangan berat tubuh bayi lantaran tindakan Lotus birth.


Penghormatan terhadap plasenta di aneka macam budaya
Beda bangsa, tempat dan suku beda pula penanganannya terhadap keberadaan ari-ari atau plasenta yang hadir saat persalinan terjadi. Dalam dunia pengobatan barat, plasenta dianggap tidak lebih dari sekedar buangan rumah sakit, tapi mengakui adanya penanganan khusus yang diberlakukan di aneka macam belahan dunia.


Diantara suku Navajo Indian barat daya, menjadi suatu kebiasaan untuk menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat . Sementara suku Maori di Selandia Baru mempunyai tradisi yang sama yaitu menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar. Dalam bahasa orisinil Maori kata untuk tanah dan plasenta tersebut yaitu :whenua (baca: venua).


Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta mempunyai spirit tersendiri. Karenanya seorang suami harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka yaitu ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan mati.


Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan plasenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara plasenta tersebut yaitu kembaran yang mati. Sehingga harus dikuburkan dengan ritual tertentu. Lain lagi di Filipina, plasenta dikuburkan dengan aneka macam macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pandai . Kondisi Filipina ternyata tidak berbeda jauh dengan beberapa masyarakat yang ada di Indonesia, dimana mereka menguburkan plasenta dilengkapi dengan buku, pensil dengan maksud biar kelak anak yang dilahirkan tersebut menjadi anak yang pintar.


Ironis lagi di Vietnam dan China plasenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat china dan Vietnam mempercayai, bahwa ibu yang gres melahirkan seharusnya merebus sendiri plasenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.


Sementara di nusantara Indonesia, Ari-ari atau plasenta sering dianggap sebagai saudara bayi yang memeliharanya selama kehamilan berlangsung, bahkan tidak jarang plasenta mendapat perhatian khusus sesuai dengan sopan santun kebiasaaan masyarakat yang berlaku. Sebagian masyarakat memperlakukan plasenta (ari-ari) dengan tatalaksana khusus, sebagai ungkapan terimakasih lantaran sudah memelihara bayi hingga cukup bulan serta lahir ke dunia.



Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap ari-ari.



  1. Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.

  2. Diisi duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian biar harum dan tidak berbau.

  3. Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah; sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.

  4. Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari ari-ari tersebut diberikan susu juga.



Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari



  1. Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.

  2. Di dalam kendi disertakan goresan pena jawa/Abjad biar kelak nantinya bayi tersebut pandai.

  3. Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.

  4. Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi pria selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.

  5. Sebagian ada yang membuangnya ke sungai , sehingga bayi ini akan suka merantau.



Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap ari-ari



  1. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian hingga kering.

  2. Selanjutnya di tanam di sertai doa dan alat-tulis.



Alasan mengapa Lotus Birth dipilih:
Setiap ibu mempunyai alasan sendiri. Berikut ini yaitu beberapa alasan ibu untuk menentukan Lotus Birth:



  1. Ibu dan keluarga tidak ingin memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat.

  2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali sentra pada waktu yang tepat.

  3. Penghormatan terhadap bayi dan plasenta.

  4. Asumsi ibu bahwa sanggup menjamin bayi mendapat volume darah optimal dan spesifik yang diharapkan bagi bayi.

  5. Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada ahad pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.

  6. Mengurangi angka kesakitan bayi akhir abses nosokomial dari pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih menentukan untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.

  7. Alasan rohani atau emosional.

  8. Tradisi budaya yang harus dilakukan.

  9. Tidak khawatir wacana bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.

  10. Kemungkinan menurunkan risiko abses (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)

  11. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan.sedangkan kalau tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal)



Manfaat dilakukannya Lotus Birth diantaranya :



  • Tali sentra dibiarkan sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.

  • Oksigen vital yang melalui tali sentra sanggup hingga ke bayi sebelum bayi benar-benar sanggup mulai bernafas sendiri.

  • Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera sehabis lahir.

  • Bayi tetap berada erat ibu sehabis kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih usang untuk bounding attachment.


Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk terlepasnya tali pusatbila tali sentra dipotong segera, 9,56 hari, saat berhenti berdenyut 7,16 hari, dan dibiarkan 3,75 hari.


Langkah dilakukannya Lotus Birth
Beberapa hal yang dilakukan dalam Lotus Birth diantaranya :



  1. Bila bayi lahir, biarkan tali sentra utuh. Jika tali sentra berada sekitar leher bayi, cukup angkat tali tersebut.

  2. Tunggu lahirnya plasenta secara alami.

  3. Ketika plasenta lahir, tempatkan pada mangkuk di erat ibu..

  4. Tunggu transfusi penuh darah dari sentra ke bayi sebelum menangani plasenta.

  5. Hati-hati dalam mencuci plasenta yaitu dengan memakai air hangat dan tepuk-tepuk hingga kering.

  6. Tempatkan plasenta di tempat yang kering.

  7. Letakkan plasenta pada materi yang menyerap menyerupai sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas plasenta..

  8. Gendong bayi dan beri makan sesuai kebutuhannya.

  9. Pakaikan bayi memakai pakaian yang longgar.

  10. Bayi sanggup dimandikan menyerupai biasa, biarkan plasenta bersamanya.

  11. Meminimalisir pergerakan bayi.


Sumber http://www.sarahjbuckley.com/ en.wikipedia.org/wiki/Lotus_birth http://www.lotusfertility.com

Komentar