Deteksi Dini Anak Dengan Autis

 dipandang sebagai  gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis Deteksi Dini Anak dengan AutisPada awalnya gangguan ASD (Autistic Spectrum Disorder) dipandang sebagai gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis, yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara emosional. Barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang menandakan bahwa gangguan ASD (Autistic Spectrum Disorder) disebabkan oleh adanya keganjilan pada otak. Pada awal tahun 1970, penelitian ihwal ciri-ciri anak autistik berhasil menentukan kriteria diagnosis yang selanjutnya digunakan dalam DSM-III. Gangguan autistik didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi, dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi. Walaupun sudah banyak penelitian mengenai ASD (Autistic Spectrum Disorder) dalam banyak sekali bidang, sejumlah jago yang melaksanakan penelitian mendalam terhadap autisme berkesimpulan bahwa autisme bukanlah fenomena yang sederhana.


Frith (2003) menyimpulkan bahwa usahanya untuk menjelaskan autisme secara sederhana justru mengarahkannya pada fakta-fakta yang lebih kompleks: “The enigma of autism will continue to resist explanation.” Buten (2004) menemukan begitu beragamnya karakteristik anak autistik sehingga hanya satu kesamaan yang dilihatnya yaitu “air of aloness”. Sementara Zelan (2004) beropini bahwa individu autistik berbeda dengan individu lain sehingga perlu didekati dengan pendekatan humanistik yang memandang mereka sebagai individu yang utuh dan unik.


Gangguan ini pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner dan Hans Asperger pada tahun 1943 dan hingga ketika ini gangguan ASD (Autistik Spectrum Disorder) awalnya Hans Asperger menyebutkan gangguan ini sebagai psikopat austistik masa kanak-kanak. Peningkatan jumlah anak dengan gangguan ASD (Autistic Spectrum Disorder) sangat dramatis. Di Amerika, ketika ini rasio penyandang autis yaitu 1:150. Sementara itu, 14 tahun sebelumnya, 1:10.000. Jumlah anak autis di seluruh dunia pada tahun 2007 sebanyak 35 juta dan pada tahun 2008 mencapai 60 juta. Oleh lantaran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan resolusi Nomor 62/139 pada 18 Desember 2007 yang menetapkan 2 April sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia demi mengatasi problem penyandang autis yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Quill dalam Titin (2005:5) yang menyatakan bahwa kecenderungan dan kelemahan berkomunikasi anak penyandang ASD (Autistic Spectrum Disorder) yaitu menghindari kontak mata dan sulit memusatkan perhatiannya, hanya merespon pada orang lain (sulit untuk memulai komunikasi), komunikasi yang dilakukan cenderung untuk meminta (request) dan sulit untuk memperlihatkan komentar atau tidak spontan, membeo (ocholalia) dan sulit untuk menciptakan pesan baru, dalam percakapan kecenderungan melaksanakan topik percakapan yang itu-itu saja (preserveretive topic) topik yang dibicarakan kurang fleksibel dan percakapan tertuju pada diri sendiri (self directed) dan sulit melaksanakan percakapan bersama.


Autisme merupakan problem yang multidisipliner. Secara internal pada individu autis, diharapkan penanganan dari ilmu kedokteran (bagian jiwa, anak dan gizi) dan juga psikologi. Secara eksternal, autism menyangkut problem sosiologi, komunikasi dan pendidikan. Dulu autism dianggap sebagai kondisi yang tanpa impian dan tidak sanggup membaik, ternyata ketika ini diketahui, bila dilakukan intervensi secara dini, intensif. Optimal dan komperhensif maka penyandang autisme sanggup “sembuh”. Penanganan pada usia dini dilakukan melalui terapi sebelum anak berumur 5 tahun, lantaran puncak perkembangan paling pesat dari otak insan terjadi pada usia 2-3 tahun, oleh lantaran itu pelaksanaan terapi sesudah usia 5 tahun hasilnya akan berjalan lambat. Penanganan dini yang digunakan pada anak penyandang ASD (Autistic Spectrum Disorder) berbeda beda, diadaptasi dengan kondisi dan kemampuan indivual anak. Berbagai terapi diupayakan untuk “menarik” anak autis dari dunia dan alam pikirannya yang sepi.


Berbagai jenis terapi telah dikembangkan untuk menangani anak penyandang ASD (Autistic Spectrum Disorder) yaitu terapi perilaku, terapi metode ABA (Applied Behavior Analysis), terapi Okupasi dan terapi fisik, terapi wicara, terapi Medikamentosa, terapi bermain dan terapi musik, dan terapi diet. Terapi membantu anak penyandang autis untuk mengembangkan keterampilan bantu diri atau self-help, ketrampilan berperilaku yang pantas di depan umum. Salah satu tempat yang sanggup memperlihatkan terapis pada anak penyandang autis yaitu sekolah atau tempat-tempat pembinaan yang dikhususkan bagi belum dewasa dengan kebutuhan khusus. Sekolah merupakan salah satu wadah bagi anak untuk melaksanakan sosialisasi sekunder.


Klasifikasi autisme ditentukan berdasaran akad para dokter yang dituangkan dalam International Classification of Deaseas 9 and 10 (ICD-9 dan ICD-10) oleh WHO tahun 1993, atau Diagnostic and Statistical Manual IV (DSM IV) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 1994, yaitu :


1. Autisme Masa kanak-kanak (Chidlhood Autism)
Autisme Masa Kanak yaitu gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Anak-anak ini sering juga memperlihatkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar. Kecuali gangguan emosi sering pula belum dewasa ini memperlihatkan gangguan sensoris, menyerupai adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tidak suka bila dipeluk atau dielus. Autisme masa kanak lebih sering terjadi pada anak pria daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.
Perkembangan yang terganggu yaitu dalam bidang :
a. Komunikasi, yaitu kualitas komunikasi yang tidak normal, antara lain menyerupai :
1. Perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang.
2. Tidak adanya perjuangan untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
3. Tidak bisa untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
4. Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
5. Tidak bisa untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
b. Interaksi sosial, yaitu adanya gangguan dalam kualitas interaksi sosial antara lain seperti:
1. Kegagalan untuk bertatap mata, memperlihatkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
2. Kegagalan untuk membina relasi sosial dengan sahabat sebaya, dimana mereka bisa membuatkan emosi, aktivitas, dan interes bersama.
3. Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
4. Ketidak mampuan untuk secara impulsif mencari sahabat untuk membuatkan kesenangan dan melaksanakan sesuatu bersama-sama.
c. Perilaku, yaitu aktivitas, sikap dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan stereotipik antara lain seperti:
1. Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola sikap yang tidak normal, contohnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir menyerupai air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
2. Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, contohnya bila mau tidur harus basuh kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, gres naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
3. Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, menyerupai contohnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
4. Adanya preokupasi dengan kepingan benda/mainan tertentu yang tak berguna, menyerupai roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.


2. Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified (PDD-NOS).
PDD- NOS juga mempunyai tanda-tanda gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak menyerupai pada Autisme Masa kanak. Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang kala belum dewasa ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.


3. Sindrom Rett (Rett’s Syndrome)
Sindroma Rett yaitu gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita. Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal hingga sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada ketika lahir. Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara umur 5 bulan hingga 4 tahun. Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.Seringkali memasukan tangan ke mulut, menepukkan tangan dan menciptakan gerakan dengan dua tangannya menyerupai orang sedang mencuci baju. Hal ini terjadi antara umur 6-30 bulan. Terjadi gangguan berbahasa, perseptif maupun ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang hebat. Yang sangat khas yaitu timbulnya gerakan-gerakan tangan yang terus menerus menyerupai orang yang sedang mencuci baju yang hanya berhenti bila anak tidur. Gejala-gejala lain yang sering menyertai yaitu gangguan bernafasan, otot-otot yang makin kaku , timbul kejang, scoliosis tulang punggung, pertumbuhan terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG biasanya memperlihatkan kelainan.


4. Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood Disintegrative Disorder)
Pada Gangguan Disintegrasi Masa Kanak, hal yang mencolok yaitu bahwa anak tersebut telah berkembang dengan sangat baik selama beberapa tahun, sebelum terjadi kemunduran yang hebat. Gejalanya biasanya timbul sesudah umur 3 tahun. Anak tersebut biasanya sudah bisa bicara dengan sangat lancar, sehingga kemunduran tersebut menjadi sangat dramatis. Bukan saja bicaranya yang mendadak terhenti, tapi juga ia mulai menarik diri dan ketrampilannyapun ikut mundur. Perilakunya menjadi sangat dingin dan juga timbul sikap berulang-ulang dan stereotipik. Bila melihat anak tersebut begitu saja , memang gejalanya menjadi sangat menyerupai dengan autisme.


5. Asperger Syndrome (AS)
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada anak pria daripada wanita. Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah menyerupai pada Autisme. Pada kebanyakan dari belum dewasa ini perkembangan bicara tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka berakal bicara, mereka kurang bisa komunikasi secara timbal balik.


Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang ketika itu menjadi obsesinya, tanpa bisa mencicipi apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding belum dewasa lain seumurnya. Mereka biasanya terobsesi dengan besar lengan berkuasa pada suatu benda/subjek tertentu, menyerupai mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang besar lengan berkuasa dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah. Mereka mempunyai sifat yang kaku, contohnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat murka bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya: harus berhenti bila lampu kemudian lintas kuning, membuang sampah dijalan secara sembarangan.
Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan sahabat sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain. Perilakunya kadang kala tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, menyampaikan sesuatu ihwal seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah.


Penyebab :
Hingga ketika ini penyebab ASD (Autis Spectrum Disorder) secara niscaya belum diketahui, namun beberapa pakar setuju bahwa terdapat kelainan pada otak. Terdapat tiga lokasi yang mengalami kelainan neuro-anatomis yaitu pada lobus patietalis, cerebellum (otak kecil) dan sistem limbik. Gangguan pada lobus patietalis menimbulkan anak bersikap dingin pada lingkungan. Kelainan pada cerebellum (otak kecil) ditemukan pada lobus VI dan VII, otak kecil bertanggung jawab atas proses sensorik, daya ingat, berfikir, mencar ilmu berbahasa, dan proses atensi (perhatian).


Pada otak kecil penyandang autis ditemukan sejumlah kecil sel purkinye yang menimbulkan gangguan keseimbangan serotonin dan dopamine yang menimbulkan gangguan atau kekacauan pada kemudian lalang implus di otak. Sedangkan kelainan didaerah limbik dikenal dengan istilah hippocampus (bertanggung jawab terhadap fungi mencar ilmu dan daya ingat) dan amygdale (bertanggung jawab terhadap beberapa rangsangan sensoris menyerupai pendengaran, pengeliatan, penciuman, perabaan, rasa dan perasaan takut). Gangguan pada kawasan limbik ini menimbulkan terjadinya gangguan fungsi kontrol terhadap aksi dan emosi. Anak akan kurang sanggup mengendalikan emosinya dan sering kali terlalu bernafsu atau terlalu pasif, anak juga akan melaksanakan sikap yang diulang-ulang dan hiperaktif.


Namun tidak hanya itu saja yang menjadi penyebab ASD (Autis Spectrum Disorder) beberapa faktor pemicu lain yang berperan penting dalam dalam timbulnya penyakit ini. Infeksi yang diakibatkan oleh virus antara lain toksoplasmosis, rubella, candida, benjol logam berat menyerupai Pb, Al, Hg, Cd, benjol zat adiktif menyerupai MSG, pengawet, pewarna pada trimester pertama kehamilan yakni pada ketika kandungan berusia 0-4 bulan juga menimbulkan seorang anak terserang penyakit ini. Selain itu, proses kelahiran usang (partus lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigen pada janin, tumbuhnya jamur yang berlebihan pada usus sebagai akhir pemakaian antibiotik yang berlebihan sanggup menimbulkan terjadinya kebocoran usus (leaky gut syndrome) menimbulkan ketidaksempurnaan pencernaan kasein dan gluten yang terpecah menjadi polipeptida, apabila terserap dalam aliran darah maka akan menjadikan imbas morfin pada otak anak yang juga menjadi penyebab penyakit ini. Masih ada kelainan yang disebut Sensory Interpretation Erros dimana rangsangan sensoris yang berasal dari reseptor visual, autori, dan taktil mengalamai prose yang kacau pada otak anak, sehingga menjadikan persepsi yang kacau atau berlebihan yang menimbulkan kebingungan dan ketakutan pada anak alhasil anak akan menarik diri dari lingkungan, alhasil Anak-anak penyandang ASD (Autis Spectrum Disorder) akan kesulitan dalam berkomunikasi.


Manifestasi klinis autis
Autis yaitu gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.


Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal mencakup kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak sanggup berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya sanggup berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak sanggup dimengerti orang lain (“bahasa planet”). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton menyerupai robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan mimik datar.


Gangguan dalam bidang interaksi sosial mencakup gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak bahagia atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melaksanakan sesuatu untuknya. Tidak membuatkan kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh. Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melaksanakan sesuatu untuknya.


Gangguan dalam bermain diantaranya yaitu bermain sangat monoton dan aneh contohnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan kendaraan beroda empat dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu menyerupai kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja ia pergi. Bila bahagia satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik menyerupai botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan, reflek dan tidak sanggup berimajinasi dalam bermain. Tidak sanggup menggandakan tindakan temannya dan tidak sanggup memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, contohnya bila bermain harus melaksanakan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.


Gangguan sikap dilihat dari tanda-tanda sering dianggap sebagai anak yang bahagia kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak sanggup terlihat hiperaktif contohnya bila masuk dalam rumah yang gres pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya menyerupai burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri menyerupai memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk membisu terdiam dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak sanggup memperlihatkan nalar sehatnya. Dapat sangat bernafsu ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan sikap lainnya.


Gangguan perasaan dan emosi sanggup dilihat dari sikap tertawa-tawa sendiri, menangis atau murka tanpa lantaran nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi bernafsu dan merusak.. Tidak sanggup membuatkan perasaan (empati) dengan anak lain.


Gangguan dalam persepsi sensoris mencakup perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan hingga berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar bunyi keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.


Diagnosis autisme
Menegakkan diagnosis autis memang tidaklah gampang lantaran membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang sanggup mendiagnosa eksklusif autisme. Diagnosis yang paling baik yaitu dengan cara seksama mengamati sikap anak dalam berkomunikasi, bertingkah laris dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan tanda-tanda sikap menyerupai autisme yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diharapkan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut. Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal yaitu dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter jago menyerupai jago neurologis, jago psikologi anak, jago penyakit anak, jago terapi bahasa, jago pengajar dan jago profesional lainnya dibidang autis.


Dokter jago atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter jago atau praktisi kesehatan profesional keliru melaksanakan diagnosa dan tidak melibatkan orang renta sewaktu melaksanakan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autis sanggup menjurus pada kesalahan dalam memperlihatkan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit. Hasil pengamatan sesaat belumlah sanggup disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan sikap seorang anak. Masukkan dari orang renta mengenai kronologi perkembangan anak yaitu hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis sanggup terlihat menyerupai anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi yaitu semua tanda-tanda tersebut diatas sanggup timbul secara bersamaan. Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autis dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin sanggup dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.


Deteksi Dini
Meskipun sulit namun tanda dan tanda-tanda autisme bekerjsama sudah bisa diamati semenjak dini bahkan semenjak sebelum usia 6 bulan.
1. Deteksi dini semenjak dalam kandungan
Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum bisa mendeteksi resiko autism semenjak dalam kandungan. Terdapat beberapa investigasi biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism semenjak dini, namun investigasi ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian.
2. Deteksi dini dari lahir hingga usia 5 tahun
Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi. Tetapi amatlah penting untuk mengetahui tanda-tanda dan tanda penyakit ini semenjak dini lantaran penanganan yang lebih cepat akan memperlihatkan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupahan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda.


Ada beberapa tanda-tanda yang harus diwaspadai terlihat semenjak bayi atau anak berdasarkan usia :
USIA 0 – 6 BULAN
1. Bayi tampak terlalu hening ( jarang menangis)
2. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
4. Tidak “babbling”
5. Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
6. Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
7. Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
1. Bayi tampak terlalu hening ( jarang menangis)
2. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan
4. Sulit bila digendong
5. Tidak “babbling”
6. Menggigit tangan dan tubuh orang lain secara berlebihan
7. Tidak ditemukan senyum sosial
8. Tidak ada kontak mata
9. Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
1. Kaku bila digendong
2. Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
3. Tidak mengeluarkan kata
4. Tidak tertarik pada boneka
5. Memperhatikan tangannya sendiri
6. Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
7. Mungkin tidak sanggup mendapatkan kuliner cair
USIA 2 – 3 TAHUN
1. Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
2. Melihat orang sebagai “benda”
3. Kontak mata terbatas
4. Tertarik pada benda tertentu
5. Kaku bila digendong
USIA 4 – 5 TAHUN
1. Sering didapatkan ekolalia (membeo)
2. Mengeluarkan bunyi yang aneh (nada tinggi atau datar)
3. Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
4. Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
5. Temperamen tantrum atau agresif


Komunikasi pada anak Autis
Komunikasi terjadi lantaran adanya pematangan sistem biologis dan sistem syaraf dalam tubuh anak. Tidak heran apabila pematangan sistem tersebut terhambat maka akan terhambat pula kemampuan komunikasi seseorang. Komunikasi terkait dengan kemampuan kognisi, sehingga makin bermasalah seseorang dalam pemahaman maka akan semakin terbatas kemampuan komunikasinya.


Menurut Ginanjar (2007:66) memahami tahapan komunikasi pada anak autis akan mempermudah untuk mengetahui pada tahapan mana anak tersebut berada dan merancang gaya komunikasi yang sesuai.
Tahapan dalan komunikasi pada anak autis dibagi menjadi empat, yaitu: 1. The Own Agenda Stage,
Pada tahap ini anak masih lebih suka bermain sendiri dan sepertinya tidak tertarik pada orang-orang disekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia akan mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, orang renta harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya. Interaksi dengan ibu atau pengasuh mungkin sanggup berlangsung cukup lama, namun anak belum mau berinteraksi dengan belum dewasa lain atau orang yang gres dikenalnya. Ia belum sanggup bermain dengan benar dan akan menangis atau berteriak bila kegiatannya terganggu atau bila menolak.
2. The Requester Stage,
Anak yang berada pada tahap ini mulai menyadari bahwa tingkah lakunya sanggup mempengaruhi orang disekitarnya. Bila menginginkan sesuatu, anak biasanya akan menarik tangan orang renta atu orang disekitarnya dan mengarahkan pada benda yang ada disekitarnya. Kegiatan atu permainan yang amat disukainya biasanya masih bersifat fisik menyerupai bergulat, dikelitiki, bermain cilukba. Sebagaian anak telah bisa mengulang kata-kata tetapi bukan untuk berkomuniasi melainkan untuk menenangkan dirinya. Pada tahapan ini anak mulai bisa mengikuti perintah sederhana tetapi responnya masih belum konsisten. Ia juga memahami tahapan rutin dalam kehidupan sehari-hari.
3. The Early Communication Stage,
Kemampuan anak dalam berkomunikasi telah lebih baik lantaran melibatkan gesture khusus, bunyi dan gambar. Interaksi yang terjadi juga berlangsung lama. Anak telah mentadari bahwa ia bisa menggunakan salah satu bentuk komunikasi tertentu secara konsisten pada situasi tertentu. Namun demikian, inisiatif untuk berkomunikasi masih terbatas pada pemenuhan kebutuhannya, menyerupai makanan, minuman, dan benda-benda yang disukainya. Pada tahap ini anak telah mulai mengulang hal-hal yang didengarnya, mulai memahami siyarat visua atau gambar komunikasi dan memahami kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan orang tua. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai memanggil nama, menunjuk sesuatu yang diinginkan berarti anak sudah siap untuk memulai komunikasi dua arah. Pada tahap ini anak sudah sanggup diajarkan untuk menyapa orang lain, menjawab pertanyaaan “apa ini/itu” dan memperlihatkan tanggapan “ya” “tidak”.
4. The Partner Stage,
Tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan biacara anak baik, ia akan bisa melaksanakan percakapan sederhana. Anak juga sanggup diminta untuk menceritakan pengalamannya yang telah lalu, keinginannya yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaanya. Namun demikian kadang kala anak masih terpaku pada kalimat-kalimat yang telah dihafalkan dan sulit menemukan topik pembicaraan yang tepat pada situasi yang baru. Bagi belum dewasa yang masih mengalami kesulitan untuk betbicara, komunikasi sanggup dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambar atau menyusun kartu-kartu bertulisan. Walaupun sudah sering berinteraksi dengan belum dewasa lain dan orang renta kebiasaan anak untuk bermain dengan diri sendiri tetap ada, terutama bila ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan teman-temannya. Ketika anak bisa mengucapkan kata-kata, sering muncul kebiasaan untuk mengulang-ulang kata atau kalimat tertentu, hal ini disebut Ekolalia. Kebiasaan ini sepertinya tidak mempunyai fungsi positif dan bahkan terasa menggangu bagi yang mendengarnya.


Terapi ABA (Applied Behavior Analysis) Pengertian terapi ABA
Metode ABA (Applied Behavior Analysis) yaitu metode tata-laksana sikap yang telah berkembang semenjak puluhan tahun yang lalu. Metode ini diciptakan oleh O. Ivar Lovaas, Ph.D dari University of California Los Angel (UCLA). Penggunaaan metode ABA (Applied Behavior Analysis) sanggup dianggap sebagai jadwal kesiapan mencar ilmu lantaran tingkah laris sasaran yang diajar pawa awal jadwal merupakan keterampilan awal, menyerupai pemahaman terhadap sebab-akibat, memperhatikan, mematuhi pelatih dan meniru.
Metode ABA (Applied Behavior Analysis) banyak digunakan lantaran mempunyai kurikulum yang terang yaitu menggunakan patokan yang terang ihwal keberhasilan anak. Keterampilan yang diajarkan akan diberikan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan, dan derma yang akan diberikan.
Tujuan metode ABA (Applied Behavior Analysis) Tujuan dari pemberian metode ini pada anak autis yaitu sebagai berikut:
1. Mempelajari cara anak autis bereaksi terhadap suatu rangsangan dan apa yang terjadi sebagai akhir dari reaksi spesifik tersebut. Selanjutnya, apakah metode ini juga mempengaruhi atau mengubah sikap yang akan datang.
2. Membangun kemampuan yang secara sosial tidak dimiliki, dan mengurangi atu menghilangkan hal-hal yang merupakan masalah.
3. Mengajarkan anak mencar ilmu dari lingkungan normal, merespon lingkungan, dan mengajarkan sikap yang sesuai biar anak sanggup membedakan banyak sekali hal tertentu dari banyak sekali macam rangsangan.


Metode Pengajaran ABA (Applied Behavior Analysis)
Materi pengajaran pada anak autistik harus sesuai dengan perkembangan. Misalnya, keterampilan yang lebih gampang diajarkan lebih dulu. Sedangkan, keterampilan rumit jangan dulu diajarkan sebelum anak menguasai syaratnya.


Beberapa jago terapi anak autis, mengelompokkan keterampilan dan kemampuan anak autistik untuk menyusun kurikulum khusus, diantaranya:
1. Kemampuan untuk memperhatikan. Ini yaitu sikap mencar ilmu yang diharapkan untuk bersekolah dan bekerja. Apabila seorang anak tidak bisa memperhatikan dalam rentang waktu beberapa menit, ia akan mengalami kesulitan mencerna pelajaran atau mendengarkan instruksi.
2. Meniru atau imitasi. Pada ketika anak diminta meniru, tidak muncul perkataan apapun dari seorang terapis kecuali hanya kata “tiru”, “lakukan” atau “coba”. Pada posisi ini, anak autistik dituntut melakukannya menyerupai yang dicontohkan. Materi imitasi dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu: imitasi motorik kasar, imitasi motorik halus, imitasi aksi dengan benda, imitasi bunyi (sehingga anak mencar ilmu berbicara lantaran diarahkan menggandakan kata-kata orang lain), imitasi pola balok (untuk mempersiapkan anak mencar ilmu menulis), hingga imitasi sikap bermain.
3. Memasangkan. Anak autistik dituntut mengenali sesuatu yang dikelompokkan atas ciri-ciri tertentu. Kemampuan ini mencakup kemampuan men-sortir dan mengerjakan worksheet. Misalnya, piring pasangannya gelas, pena merupakan alat tulis, stasiun, hotel, kolam renang yaitu tempat. Instruksi yang diberikan, “pasangkan”, “cari yang sama”, “mana yang sama” atau kata-kata lain yang bermakna sama, sehingga anak mencari pasangan yang diperlihatkan.
4. Identifikasi. Anak autistik diminta menetapkan pilihan dengan memegang, mengambil, atau menunjuk satu dari beberapa hal. Teknik ini memungkinkan kita menyidik apakah anak paham banyak sekali konsep (reseptive languange) tanpa bergantung pada kemampuan bicara mereka. Identifikasi tidak terlalu berbeda dengan labeling, tapi identifikasi anak autistik tidak dituntut secara ekspresif. Pada proses identifikasi, perintah yang diberikan, “pegang”, “tunjuk”, “ambil”, “kasihkan” dan anak diminta menentukan satu dari beberapa stimulus.
5. Labeling atau ekspresi (bahasa pengungkapan). Kemampuan ini memang cukup sulit lantaran mengandalkan kemampuan pengungkapan bahasa (expressive languange).
Istilah yang digunakan dalam metode ABA (Applied Behavior Analysis)


Terdapat beberapa istilah dalam pemberian terapi ini yaitu :
1. Instruksi
Yang merupakan kata- kata perintah yang diberikan pada anak pada ketika proses terapi. Instruksi pada anak harus S-J-T-T-S : SINGKAT- JELAS- TEGAS- TUNTAS- SAMA. Suatu instruksi harus cukup terang (volume diadaptasi dengan respon anak) namun jangan membentak atau menjerit. Singkat yaitu cukup 2 suku kata, jangan terlalu panjang lantaran tidak sanggup ditangkap atau dimengerti oleh anak, terutama anak autis. Tegas berarti instruksi dilarang “ditawar” oleh anak dan harus dilaksanakan (kalau perlu diprompt). Terapis harus bersikap menyerupai bos yang tidak semena-mena, terapis harus mencintai anak tersebut akan tetapi dilarang terlalu memanjakan. Tuntas berarti setiap instruksi harus dilaksanakan hingga selesai. Sama yaitu setiap instruksi dari tiga terapis harus menggunakan kata yang sama, jangan berbeda sedikitpun.
2. Prompt
Yaitu derma atau isyarat yang diberikan kepada anak apabila anak tidak memperlihatkan respon terhadap instruksi. Prompt sanggup diberikan secara penuh yaitu hand-on hand, tangan terapis memegang tangan anak dan melaksanakan sikap yang diinstruksikan. Prompt secara sedikit demi sedikit dikurangi hingga anak bisa secara berdikari melaksanakan sendiri. Prompt sanggup dilakukan dengan banyak sekali cara, contohnya dengan menunjuk, dengan gerak tubuh, dengan pandangan mata ataupun dengan cara verbal.
3. Reinforcement atau imbalan
Reinforcement atau imbalan yaitu “hadiah” atau “penguat” suatu sikap biar anak mau melaksanakan terus dan menjadi mengerti pada konsepnya. Imbalan harus terkesan menyerupai UPAH dan bukan sebagai SUAP atau SOGOKAN. Sifat upah yaitu selalu konsisten sesudah kiprah atau instruksi dan juga tidak diiming- imingi.
4. Achieved atau disingkat A
Achieved yaitu bila anak merespon suatu instruksi terapis dengan benar dan berdikari (tanpa prompt)
5. Mastered
Diberikan apabila anak berhasil merespon dengan benar 3 instruksi pertama secara berturut- turut dari 3 terapis (dalam waktu berlainan).
6. Generalisasi
Yaitu memperluas kemampuan anak untuk merespon instruksi dari subyek yang berlainan, kata- kata instruksi yang berbeda- beda, dengan obyek yang berbeda-beda, dan pada lingkungan atau suasana yang berbeda- beda.
7. R + ITEMS
Adalah semua benda (makanan, minuman, mainan, barang kesukaan anak), situasi atau acara yang disukai anak dan sanggup dijadikan imbalan.
8. ITEMS
Adalah semua benda, situasi dan acara yang tidak disukai anak
9. Mild Disruptive Behavior (MDB)
Adalah sikap “aneh” yang ringan tapi cukup mengganggu proses terapi dan pergaulan sosial, sehingga perlu dihilangkan biar tidak merugikan anak (waktu remaja kelak).
10. Tantrum atau mengamuk
Adalah sikap anak yang hebat dan merusak. Bila menyerang orang atau barang disebut bernafsu dan bila menyakiti diri sendiri disebut self-abuse. Tantrum ini juga sangat perlu dieliminir atau dihilangkan biar tidak merugikan anak dalam pergaulan sosialnya kelak.
11. Echolalia atau membeo
Yaitu kemampuan anak untuk menirukan kata atau kalimat bahkan nyanyian, tapi tanpa mengerti artinya, sehingga bisa menggunakannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.


Peranan orang tua, dokter dan tenaga kesehatan lain dalam deteksi dini
Dalam perkembangannya menjadi insan dewasa, seorang anak berkembang melalui tahapan tertentu. Diantara jenis perkembangan, yang paling penting untuk menentukan kemampuan intelegensi di kemudian hari yaitu perkembangan motorik halus dan pemecahan problem visuo-motor, serta perkembangan berbahasa. Kemudian keduanya bermetamorfosis perkembangan sosial yang merupakan pembiasaan terhadap lingkungan. Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan perkembangan.


Untuk mendeteksi keterlambatan khususnya gangguan , sanggup digunakan 2 pendekatan :
Memberikan peranan kepada orang tua, nenek, guru atau pengasuh untuk melaksanakan deteksi dini dan melaporkan kepada dokter dan tenaga kesehatan lain bila anak mengalami keterlambatan atau gangguan perkembangan dan perilaku. Kerugian cara ini yaitu bahwa orang renta sering menganggap bahwa anak akan sanggup menyusul keterlambatannya dikemudian hari dan cukup dinantikan saja. Misalnya bila anak mengalami keterlambatan bicara, nenek menyampaikan bahwa ayah atau ibu juga terlambat bicara, atau anggapan bahwa anak yang cepat jalan akan lebih lambat bicara. Kadang-kadang disulitkan oleh reaksi menolak dari orang renta yang tidak mengakui bahwa anak mengalami keterlambatan bicara.


Pendekatan lainnya yaitu dengan deteksi aktif yang sanggup dilakukan dokter atau dokter seorang jago anak. Deteksi aktif ini dengan membandingkan kemampuan seorang anak sanggup melaksanakan peningkatan perkembangan yang sesuai dengan baku untuk anak seusianya. Pendekatan kedua juga mempunyai kelemahan yaitu akan terlalu banyak anak yang diidentifikasi sebagai "abnormal" lantaran banyak gangguan sikap penderita autis pada usia di bawah 2 tahun juga dialami oleh penderita yang normal. Sehingga beberapa klinisi bila kurang cermat dalam melaksanakan deteksi aktif ini sanggup mengalami keterlambatan dalam penegakkan diagnosis. Tampaknya peranan orangtua sangatlah penting dalam mendeteksi tanda-tanda autis semenjak dini. Orangtua harus peka terhadap perkembangan anak semenjak lahir. Kepekaan ini tentunya harus ditunjang dengan peningkatan pengetahuan ihwal perkembangan normal pada anak semenjak dini. Informasi tersebut ketika ini sangat gampang didapatkan melalui media cetak menyerupai buku kesehatan populer, koran, tabloid, majalah dan media elektronik menyerupai televisi, internet dan sebagainya. Orang renta juga harus peka terhadap kecurigaan orang lain termasuk pengasuh, nenek, kakek lantaran mereka sedikitnya telah mempunyai pengalaman dalam perawatan anak.


Peranan orang renta untuk melaporkan kecurigaannya dan kiprah dokter untuk menanggapi keluhan tersebut sama pentingnya dalam penatalaksanaan anak. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan harus dilakukan investigasi atau menentukan apakah hal tersebut merupakan variasi normal atau suatu kelainan yang serius. Jangan berpegang pada pendapat :"Nanti juga akan membaik sendiri" atau "Anak semata-mata hanya terlambat sedikit" tanpa investigasi yang cermat. Akibat yang terjadi diagnosis yang terlambat dan penatalaksanaan yang semakin sulit. Langkah yang harus dilakukan yaitu dengan melaksanakan uji tapis atau skrining gangguan sikap atau autis pada anak yang dicurigai yang sanggup dilakukan oleh dokter.


Kemampuan evaluasi skrining Autis ini hendaknya juga harus dipunyai oleh para dokter umum atau khususnya dokter seorang jago anak. Dokter hendaknya harus cermat dalam melaksanakan evaluasi skrening tersebut. Bila mendapatkan konsultasi dari orangtua pasien yang dicurigai Autis atau gangguan sikap lainnya sebaiknya dokter tidak melaksanakan evaluasi atau advis kepada orangtua sebelum melaksanakan skrining secara cermat. Banyak kasus dijumpai tanpa investigasi dan evaluasi skrening Autis yang cermat, dokter sudah berani memperlihatkan advis bahwa problem anak tersebut yaitu normal dan nantinya akan membaik dengan sendirinya. Hambatan lainnya yang sering dialami yaitu keterbatasan waktu konsultasi dokter, sehingga pengamatan skrening tersebut kadang sering tidak optimal. Orang renta sebaiknya tidak mendapatkan begitu saja advis dari dokter bila belum dilakukan skrening Autis secara cermat. Bila perlu orangtua sanggup melaksanakan pendapat kedua kepada dokter lainnya untuk mendapatkan konfirmasi yang lebih jelas.


Sebaliknya sebelum cermat melaksanakan penilaian, dokter sebaiknya tidak terburu-buru memvonis diagnosis Autis terhadap anak. Overdiagnosis Autis kadang menguntungkan khususnya dalam intervensi dini, tetapi dilain pihak juga sanggup merugikan khususnya dalam menghadapi beban psikologis orang tua. Orangtua tertentu yang tidak besar lengan berkuasa menghadapi vonis autis tersebut kadangkala akan menjadikan overprotected atau overtreatment kepada anaknya. Selain itu keadaan menyerupai itu sanggup meningkatkan beban biaya pengobatan anak. Bukan menjadi belakang layar lagi, bahwa orangtua penderita Autis sangat banyak mengeluarkan biaya konsultasi pada banyak sekali dokter, terapi okupasi, investigasi laboratorium yang kadang mungkin belum perlu dilakukan.


Sumber :
American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities. Technical Report : The Pediatrician’s Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics !107 : 5, May 2001) 2. Anderson S, Romanczyk R: Early intervention for young children with autism: A continuum-based behavioral models. JASH 1999; 24: 162-173. 3. APA: Diagnostic and statistic manual of mental disorders. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 1994. 4. Bettelheim B: The Empty Fortress: Infantile Autism and the Birth of the Self. New York, NY: Free 5. www.autisme.or.id 6. www.sinarharapan.co.id. 7. autism.blogsome.com

Komentar