Viagra Vs Kondom: Sebuah Catatan Usaha Hiv

 tampaknya sebuah perbincangan yang akan menuai kontrovesi lantaran dianggap dilema yang s Viagra VS Kondom: Sebuah Catatan Perjuangan HIVMembicarakan topik kondom di masyarakat, tampaknya sebuah perbincangan yang akan menuai kontrovesi lantaran dianggap dilema yang sensitif juga hal tabu, terlebih di kalangan agamawan. Memang kondom seringkali dikaitkan dengan dilema moralitas, atau bahkan dianggap sebagai bentuk kampanye seks bebas. Padahal, data menandakan bahwa kondom selain sebagai salah satu alat kontrasepsi, pun memiliki implikasi yang sangat besar terhadap kesehatan masyarakat dalam menahan laju prevalensi HIV/AIDS yang sekarang telah mencapai 33 juta kasus di dunia. Seperti cerita sukses agenda kondom 100%  di Thailand yang bisa menahan prevalensi HIV dan mengurangi kasus baru.


Meski kondom dan viagra,  keduanya hasil produk teknologi untuk intervensi acara seksual dan juga untuk keperluan kesehatan reproduksi dan seksual. Lalu timbul pertanyaan,”Mengapa Viagra begitu sangat dikenal dan dianggap bernilai di masyarakat bila dibandingkan dengan kondom?”.  Bahkan saking popular, iklan Viagra bisa muncul  sebagai e-mail spam/sampah di inbox e-mail kita.


Topic “Viagra versus Kondom” diangkat menjadi sesi yang menarik pada satellite session ICAAP pada Rabu, 12 Agustus 2009. Acara yang di selenggarakan oleh the Consortium, Institute for Population and Social Research of Mahidol University, ICAAP LOC and Sexuality Policy Watch., dipadati oleh para akseptor yang antusias dengan informasi yang ditawarkan.



Beberapa data mengatakan betapa mudahnya viagra diterima di masyarakat bahkan mendapatkan legalitas dari pemerintah. Kejadian itu nampak berbanding terbalik dengan alat kontrasepsi. Perlu 35 tahun untuk meyakinkan Pemerintah Jepang mendapatkan pil KB, berbeda sekali dengan viagra yang hanya beberapa bulan. Sedangan Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA) butuh 6 bulan untuk viagra dan 4 tahun untuk menyetujui pil aborsi.


Nyatanya,  semua ini disebabkan adanya imbas gender begitu berpengaruh di masyarakat. Apatah lagi bila dilema tersebut dikaitkan dengan dilema agama, moral, dan budaya patriarki yang dominan.


Padahal berdasarkan Michael Tan, seorang dosen dari Universitas Philipina, viagra dan kondom, keduanya berbeda sangat jauh dalam hal bukti yang ditinjau dari segi biomedis. Kondom tercatat ada dalam daftar Badan Kesehatan Dunia  (WHO), tidak bagi viagra.


Bagi masyarakat pada umumnya, pria dianggap sebagai seorang yang super  power, begitu pula dalam kehidupan seksualnya. Laki-laki memiliki tugas penting dan mirip sumber kehidupan sehingga mendapatkan keistimewaan untuk mendapatkan kesenangan, sedangkan wanita hanya sebagai ”sumber kesenangan”. Bahkan di negaranya, Michael menuturkan lelaki yang impoten dan infertil diibaratkan insiden yang paling jelek dibandingkan kematian.


Di Indiapun hampir sama, Jayashree dari the National Institute of Mental Health and Neuroscience di Bangalore mengungkapkan, masyarakat melaksanakan hubungan seks namun mereka tak berani berbicara seks lantaran mengundang perdebatan. Bahkan di 8 provinsi melarang pendidikan seks di sekolah.


Lain halnya dengan di Indonesia, Prof. Irwanto dari Universitas Atmajaya menjelaskan di sebagian besar toko-toko maupun kios penyedia viagra dan kondom, para pedagang mengakui mereka tidak pernah melaksanakan promosi terhadap kondom. Kondom hanya dijual pada orang yang berminat membelinya saja.


Nampaknya menjadi tantangan besar ke depan usaha kondom menahan laju epidemik HIV/AIDS, dan harus bisa bersaing dan menahan kepopuleran dan keberpihakan masyarakat dan pemerintah terhadap viagra.

Komentar