Melepas Jerat Nikotin

Candu nikotin dalam rokok sepuluh kali lebih berpengaruh daripada kokain dan morfin Melepas Jerat NikotinCandu nikotin dalam rokok sepuluh kali lebih berpengaruh daripada kokain dan morfin.


Berhenti merokok bukan hal mudah. Namun bukan berarti itu tidak dapat dilakukan. Ardi misalnya, pria 40 tahun yang merokok semenjak duduk di kursi Sekolah Menengah Pertama itu sudah setahun ini terbebas dari kebiasaan merokok. Padahal sebelumnya ia biasa mengisap 1-2 bungkus rokok per hari.


Diakui Ardi, perlu usaha berat untuk dapat lepas dari batang-batang tembakau yang sebelumnya selalu menemani hari-harinya. Dalam usahanya, pernah beberapa kali ia putus nyambung dengan rokok.


“Sempat berhenti seminggu dua minggu, tapi sesudahnya merokok lagi. Begitu terjadi berulang-ulang,” ujar wiraswasta asal Jakarta Barat itu.


Menurut Ardi, satu hal yang dirasakannya sangat mengganggu di awal-awal berhenti merokok yaitu rasa tidak nyaman. Ia jadi gampang gelisah, suntuk, gampang marah, dan pening kepala. Saat-saat itulah godaan untuk merokok tiba begitu kuat.


“Terlebih ketika berkumpul bersama teman perokok atau melihat rokok yang dipajang penjual,” kata Ardi. Lantas, apa diam-diam sukses Ardi?


Menurutnya, ada dua hal yang membuatnya mampu melepaskan diri dari candu nikotin. Yakni, tekad dalam diri serta dukungan berpengaruh dari keluarga.


“Awalnya ada dorongan dari istri. Hampir tiap hari ia selalu bicara ancaman rokok buat kesehatan. Setiap kali ada artikel di Koran, majalah, internet, atau brosur yang membahas soal itu, ia tunjukkan ke saya. Ia juga mengait-ngaitkan kebiasaan merokok dengan pemborosan,” terang Ardi.



Dukungan istri sangat membantu Ardi ketika rasa gelisah ingin merokok tiba menyergap. Saat-saat menyerupai itu biasanya sang istri selalu mengingatkan kembali tekadnya untuk berhenti merokok.


“Istri kembali mengingatkan bahwa ketidaknyamanan itu hanya sementara, sesudahnya akan ada banyak laba dari berhenti merokok,” imbuh Ardi.


Akhirnya, kolaborasi Ardi dan istrinya membuahkan hasil. Setelah setahun lebih berupaya, Ardi tidak pernah lagi mengepulkan asap rokok.


Apa yang dialami Ardi turut menandakan bahwa berhenti merokok memang bukan kasus mudah. Data penelitian menunjukkan, 70% perokok ingin berhenti. Namun, 5%-10% diantaranya yang berhasil melakukannya tanpa bantuan.


Menurut dokter seorang andal jantung RSAB Harapan Kita, Aulia Sani, hal itu tidak lepas dari efek nikotin dalam rokok yang bersifat candu (adiktif). Sifat candu nikotin bahkan 5-10 kali lebih berpengaruh daripada kokain dan morfin.


Aulia menjelaskan, ketika seseorang merokok, nikotin terserap dalam darah dan diteruskan ke otak. Di otak, nikotin melekat pada reseptor, menjadikan pelepasan zat dopamin dari otak. Terlepasnya dopamin memberi rasa nyaman.


Namun selang beberapa waktu, nikotin akan terlepas dari reseptor, dopamin berkurang, rasa nyaman pun berkurang. Karena itu, timbul harapan untuk merokok lagi dan lagi.


“Ketika perokok berhenti, akan timbul imbas ketagihan (withdrawal) yang ditandai dengan rasa gelisah, tidak nyaman. Efek ini biasanya terjadi pada 1-2 ahad pertama,” ujar Aulia dalam sebuah diskusi yang diadakan perusahaan farmasi Pfizer Indonesia di Jakarta, pekan lalu.



Dukungan keluarga


Karena kebiasaan merokok dipengaruhi faktor adiksi dan lingkungan social, upaya penghentiannya perlu pendekatan multidimensi. Motivasi atau janji berpengaruh merupakan modal awal yang sangat dibutuhkan. Kerap kali, motivasi dari diri prokok sendiri tidaklah cukup.


“Dukungan keluarga atau teman bersahabat sangat dibutuhkan,” ujar dokter seorang andal kesehatan jiwa RS Persahabatan Jakarta, Tribowo T Ginting, pada kesempatan sama.


Lebih lanjut Tribowo menjelaskan hal-hal yang dapat dilakukan untuk memotivasi perokok biar berhenti merokok.


Pertama, hargai keputusaanya untuk berhenti dan luangkan waktu menyertainya melewati masa-masa sulit ketika terjadi imbas ketagihan (withdrawal). Bantu ia mengalihkan pikiran dari rokok dengan melaksanakan acara nyata menyerupai mengobrol, nonton TV, jalan-jalan atau olahraga.


“Jangan bosan untuk mengingatkan ancaman rokok dan laba berhenti merokok,” kata Tribowo.


Dalam beberapa kasus, imbas ketagihan begitu berpengaruh memengaruhi perokok. Untuk itu, ada obat-obatan yang dapat membantu mengatasinya.

Komentar